Senin, 09 Februari 2009

tanda-tanda kematian

.................

Kegelapan yang menggelayuti langit-langit kamarku seakan berputar lambat. Seperti slow motion. Dan dari tengahnya, setitik cahaya memijar lemah, membutir, menggumpal, membesar, menguat dan menelungkupku. Memenuhi ruangan dengan kebenderangannya. Mar lodok…Mar lodok…Mar lodok. Teriak olok-olok anak kecil menyelusup telingaku. Mar gila…Mar gila…Mar gila. Lalu, aku melihat mereka, anak-anak itu, berbaju putih dan seluar merah, memakai sepatu lusuh lagi butut. Mereka membentuk lingkaran, melompat-lompat sambil terus bernyanyi dengan lirik yang sama: Mar lodok. Dan, di antara bocah-bocah itu, aku melihat diriku, kecil, berlompatan di belakang barisan. Di tengah kerumunan bocah SD itu, seseorang berdiri gugup. Seorang perempuan. Rambut digelung ke belakang dengan penjhung berisi buntalan entah apa. Dia menangis merana sembari menatap anak-anak SD yang mengolok-oloknya itu, menyakitinya. Dan pada suatu ketika yang tidak terduga, Mar kalap. Mengamuk. Menyerang bocah-bocah yang kini berhamburan kalang kabut, lintang pukang menyelamatkan diri. Seperti gerombolan ikan rencek kacau balau oleh serangan maut seekor kaloju lapar. Dan aku kecil terselip entah di mana di antara kepanikan itu. Saat itulah, Mar tersandung, jatuh, dan memburailah isi penjhungnya itu: gumpalan-gumpalan kain kumal, pakaian. Dan kembali aku melihat diriku kecil terpana menyaksikan ini. Bersembunyi di atas pohon jambu air. Untuk pertamakalinya tahu isi penjhung Mar

Kemarahan Mar menggumpal, menjadi segumpal kabut hitam tebal yang berputar pelan, slow motion, lalu kabut hitam itu makin mengembang, melebar, membesar, memenuhi ruangan, Kini kenanganku gelap. Hitam pekat. Oh, kiranya ini malam. Malam yang kelabu di sebuah rumah berdinding anyaman bambu. Orang-orang di dalam rumah itu tampak suram. Kesedihan dan kekhawatiran menudung wajah mereka. Sorang lelaki tua duduk bersandar melamaun, diguratan wajahnya tergambar beban hidup yang mendera, begitu lekat, seakan derita itu sendirilah wajahnya. Nafas yang dihela mereka terseret berat keluar dari hidung. Dan di situ, di atas dipan, seorang pemuda terbujur kaku, tak bergerak. Wajahnya beku, diam, dingin, kehilangan ekspresinya, hampa menanti─menanti apa? Dan, di antara mereka, aku kecil meringkuk takut-takut. Dalam keheningan, kelepak sayap keluwang terdengar tajam dengan cericitnya yang menyeramkan. Lalu samar-samar, seperti muncul dari masa lalu yang menakutkan, sayup-sayup, tangis yang kelam datang melayang. Suara tangis? Siapa? Dari kejauhan rumah sana? Malam-malam begini? Rasanya seperti mimpi bagiku. Tapi, tangis itu makin jelas terdengar, makin nyata, dan bukan aku seorang yang mendengarnya─ini bukan mimpi, tangisan itu…tangisan Mar. Tangisan yang kini terdengar dari halaman rumah tetangga itu menghentak kami semua dalam lecutan yang maha dahsyat, mengagetkan setelah beberapa saat terbius. Tiba-tiba nenek menangkupkan telapak tangannya kewajahnya, pundaknya bergoncang keras, tangisnya memburai, memicu suatu emosi yang aneh. Para wanita yang lainpun segera menyusulnya menangis.

Em…mar bupakna….! Em…mar bupakna! Aduh rato bulo….”

Tangis Mar di malam itu menjadi aba-aba bagi tangis histeris lainnya. Meratap. Dan, keesokan hari, saat hari masih bayipukul dua pagi, pemuda yang terbujur kaku itu menghembuskan nafas terakhirnya. Mati.
...............
selengkapnya, baca di rumah besar

kamus bahasa bawean

.........
Melihat dari sejarahnya yang panjang dan gelap di belakang, periodeisasi Bahasa Bawean-Kumalasa saya golongkan ke dalam tiga periode. Yaitu, Periode Tak Ekaeding (Periode Tak Terdengar, The Unknown Period), Periode Selambok (Periode Lama, The Ancient Period) dan Periode Modern. Periode Tak Ekaeding merupakan masa-masa yang gelap, tak terdengar tak terbayang sejarahnya, tanpa bekas yang bisa dilacak dari sejarah Kumalasa. Periode ini tidak meninggalkan totoraan (clue, tanda) untuk dapat menuntun pada suatu pemahaman atasnya. Periode ini telah sangat lama hilang dan kita hanya bisa menemuinya dalam bayangan-bayangan kita yang paling dalam, paling misterius, paling tak teraba, tak katon (invisible), hanya kelebat-kelebat kenangan yang dilupakan dan hampir tak bisa dipercaya pernah ada. Periode ini tidak memiliki catatan waktu, karena memang saat itu belum ada waktu di Kumalasa dan Pulau Bawean pada umumnya. Periode ini begitu tersembunyi karena sama sekali tidak ada artefak yang tertinggal darinya......

baca lengkapnya di rumah besar